STRUKTURASI

Anthony Giddens (1984) mempersembahkan suatu teori strukturasi dalam usahanya untuk menjembatani apa yang dia rasakan menjadi suatu perbedaan antara bagian depan perspektif teoritis dengan apapun yang menekankan pada tindakan dan agensi. Untuk itu, strukturasi dideskripsikan sebagai suatu proses yang mana struktur-strukturnya itu merupakan bagian dari agensi masyarakat, meskipun mereka memberikan media dari konstitusi tersebut. Kehidupan sosial terdiri dari konstitusi bersama antara struktur dan agency. Konsep strukturasi ini bukanlah hal baru dalam ilmu pemikiran sosial.  Satu dari karakteristik penting dari teori strukturasi adalah keunggulan pada perubahan sosial mengenai bagaimana struktur diproduksi dan direproduksi oleh agen-agen masyarakat yang beraksi melalui media dari struktur-struktur ini.
Dalam bab ini mengarahkan bagaimana teori strukturasi dapat bergabung dengan proses komodifikasi  dan spasialisasi untuk kemajuan-kemajuan dalam politik ekonomi dalam komunikasi. Khususnya, strukturasi menyeimbangkan kecenderungan dalam analisis politik ekonomi untuk menonjolkan struktur, bisnis khusus, dan institusi pemerintah, dengan cara menujukan, menggabungkan gagasan dari agency, hubungan-hubungan sosial, proses sosial dan praktek-praktek sosial. Teori strukturasi merupakan suatu pendekatan ke hidup sosial yang memiliki tujuan mencapai sasarannya, suatu refleksi dari human action, tanpa melepaskan pengertian dari “benang” kekuasaan yang sepenuhnya berasal dari tindakan sosial.

Seperti pemikiran yang terakhir, telah menciptakan suatu kontribusi substansial ke penelitian sosial, termasuk penjelasan mengenai praktek-praktek komunikasi, dengan suatu analisis yang menyokong dari komoditi, institusi, praktek, dan konsekuensi yang terdiri dari produksi, distribusi, dan penggunaan kekuasaan. Ekonomi politik telah menyelesaikan ini dengan konsep dan metodologi yang terutama disesuaikan dengan skala-besar analisis makro mengenai kekuasaan. Hal ini telah memungkinkan ekonomi politik untuk menelitinya, sebagai contoh bagaimana penggabungan, kemahiran, dan praktek buruh yang telah memungkinkan Rupert Murdoch’s News Corp. untuk mengumpulkan kekuasaan untuk mengembangkan produksi media dan komoditi informasi serta untuk mempengaruhi kebijakan tindakan-tindakan pengaturan pemerintah. Metodologi  ekonomi politik komunikasi  digunakan untuk penelitian yang memiliki konsentrasi pada kumpulan data-data penghasilan, struktur organisasi, ketenagakerjaan, yang seimbang dengan kepatuhan pada pemerintah seperti tindakan-tindakan pengaturan oleh pemerintah.

Apa yang terdapat dalam analisis sosial tidak ada yang dapat jauh dengan strukturasi, termasuk konsepsi Giddens mengenai hal tersebut. Agency merupakan suatu dasar pokok dari konsepsi sosial yang mengarah pada individu sebagai aktor sosial yang mana perilakunya itu keluar dari hubungan sosial mereka serta posisi mereka dalam masyarakat, termasuk di dalamnya kelas, ras, gender. Meskipun begitu, melalui strukturasi yang ditujukan melalui agen sosial, daripada individual, aktor, yang dikenal sebagai arti proses sosial dari individu. Konsep tersebut bermaksud pada praktek dalam mendefinisikan kembali aktor-aktor sosial, lapital, serta buruh, sebagai subyek individu yang mana memiliki nilai yang berhubungan dengan hak-hak individu, ekspresi individu, serat hak politik indivudu dalam pengambilan suara, dan hak-hak individu untuk berkonsumsi. Tindakan-tindakan ini diambil atas nama Negara, tapi terikat dengan aturan-aturan kelas, memisahkan individu yang satu dengan lainnya, dari identitas sosial mereka. Oleh karena itu, strukturasi merupakan suatu catatan data untuk meneliti konstitusi yang bermutu dari struktur serta agency dalam ekonomi politik. Hal ini merupakan suatu permulaan untuk memperluas konsepsi kekuasaan dan lagi pengertian mengenai ebntuk hubungan sosial yang ada dalam ekonomi politik.

Saat ekonomi politik telah memberikan perhatiannya pada agency, proses dan paktek sosial, hal ini telah membuat fokus pada kelas sosial. Ada beberapa alasan menarik untuk mempertimbangkan strukturasi kelas untuk menjadi point data pusat untuk membandingkan kehidupan sosial, sebagai pemikiran pembagian divisi kelas dalam ekonomi politik sebagai pembuktian komunikasi.

Kelas sosial termasuk juga di dalamnya hubungan sosial dan suatu alat analisis. Proses strukturasi membentuk hegemony, didefinisikan sebagai suatu hal yang memang semestinya begitu (taken-for-granted), berdasarkan pikiran sehat (common-sense), menaturalisasikan cara berpikir mengenai dunia termasuk semua hal yang berasal dari cosmology, melalui etika atau tata susila, ke praktek-praktek sosial, kemudian seluruh hal ini tergabung dan diperjuangkan dalam hidup sehari-hari.

Bab ini menambahi mengenai analisi kelas, gender, ras, dan hegemony dengan menunjukkan bagaimana hubungan-hubungan ini telah digunakan dalam penelitian ekonomi politik dengan sasaran berpindah melewati gagasan bahwa ini merupakan kategori sederhana yang mana media memiliki pengaruh yang kuat.

Kelas Sosial

Kelas sosial adalah sesuatu yang kategorial yang didefinisikan sebagai suatu kategori masyarakat yang menempati posisi dalam suatu masyarakat yang dilihat dari kemampuan ekonomi yang diukur melalui kesejahteraan dan pendapatan. Dilihat sebagai suatu hubungan, kelas sosial dapat pula diartikan sebagai hubungan diantara masyarakat berdasarkan pada hubungan mereka dengan proses primer dari produksi sosial dan reproduksinya. Kelas merupakan suatu hubungan yang muncul, contohnya antara kapital dengan kelas pekerja, yang berdasarkan pada kepemilikan produksi. Menurut pandangan relasi, kapital tidak akan ada tanpa kelas pekerja dan pemilik kekuasaan.

Gender

Dalam pandangan politik ekonomi, kelas sosial merupakan poin penting guna pengujian strukturasi, dimana dalam sesi sebelumnya mengakui bahwa konsep kelas sosial dapat digunakan dalam mendiskripsikan sebuah proses komunikasi. Menurut Jansen (1989), walaupun kelas sosial merupakan poin penting dalam pembahasan politik ekonomi, tetapi tidak mencukupi untuk membedah lebih lanjut mengenai proses strukturasi dalam relasinya dengan komunikasi, dimana dalam pembahasan kelas sosial sebelumnya belum menyertakan wacana gender sebagai wacana pendukung. Gender sendiri merupakan sebuah bagian dari wacana kelas sosial, sebagai contoh dalam wacana politik ekonomi, wanita ditempatkan sebagai sebuah sosok pekerja (buruh) yang digaji rendah dan digambarkan dalam kondisi yang menyedihkan, dimana sosok wanita tersebut dikonstruksi sedemikian rupa karena tenaga mereka kalah bila dibandingkan dengan pekerja pria, sehingga mereka ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah.

Dalam politik ekonomi, pembahasan tidak mencari ‘bagaimana posisi gender dalam tatanan masyarakat’, melainkan menetapkan atau mengetahui ‘bagaimana teori gender tersebut dapat padu atau dapat diterapkan dalam analisis wacana politik ekonomi’. Pendekatan gender itu sendiri digunakan untuk melihat lebih lanjut mengenai adanya hubungan kekuasaan dengan gender itu sendiri, sehingga merujuk pada analisis teori reproduksi sosial, dan pada akhirnya berfokus pada ‘duality of gender and class’ atau dengan kata lain adanya ‘benang merah’ antara gender dan kelas.

Analisis teori reproduksi sosial tersebut merujuk pada analisis gender, dimana reproduksi sosial tersebut mencoba mengubah pandangan masyarakat mengenai proses produksi media; dengan kata lain mengubah pandangan mengenai ‘produksi dari audiens’ diubah menjadi ‘reproduksi relasi sosial’. Hal ini menunjukkan suatu perubahan mendasar, dimana media mencoba mengubah cara pandang masyarakat mengenai pemahaman semula akan proses produksi media, yang berimbas pada relasi sosial dalam masyarakat. Sebagai contoh, media mereproduksi relasi sosial yang ada dalam masyarakat (dalam hal ini berkaitan dengan pembahasan gender) bahwa sosok wanita merupakan sosok pekerja rumah, mempunyai ketrampilan yang lebih rendah dibandingkan dengan sosok pria. Hal ini tidak terlepas pula dari peranan media dalam mereproduksi relasi sosial dalam sebuah tampilan media massa.

Ras

Menurut Sivanandan (1989), ras merupakan suatu kekuatan sentral dalam sebuah wacana ketenaga kerjaan (buruh), dimana didalamnya tidak hanya terdapat hubungan antara kelas dan gender, melainkan terdapat pula peran ras dalam sebuah wacana politik ekonomi. Seperti halnya analisis gender, ras juga merupakan sebuah wacana pokok dalam proses strukturasi, tetapi terdapat perbedaan mendasar dari kedua wacana tersebut, dimana gender dibentuk melalui interaksi sosial masyakarat atau melalui berbagai macam saluran media, sedangkan ras dibentuk dari konsep sosial historis yang ada. Aspek sosial historis tersebut dimaksudkan bahwa wacana ras tidak semata-mata keluar secara tiba-tiba, melainkan ada sebuah proses historis yang melatarbelakangi itu semua. Sebagai contoh, ras kulit hitam di Amerika pada jaman dulu merupakan sebuah ras ‘pekerja atau buruh’, sehingga sampai sekarang stereotype yang muncul di benak masyarakat adalah ras kulit hitam merupakan ras ‘buruh’.

Kaitan antara ras dengan wacana ekonomi politik tersebut tampak pada adanya suatu konsep ‘rasisme’ yang muncul di benak masyarakat. Dimana konsep rasisme tersebut membawa sebuah dampak akan pembentukan stereotype dalam masyarakat akan suatu ras tertentu, seperti contoh di atas, ras kulit hitam merupakan sosok pekerja, selain itu sering juga digambarkan sebagai sosok yang jahat. Konsep ‘rasisme’ tersebut merujuk pada pembagian kelas-kelas dalam masyarakat, sehingga memunculkan kelas minoritas dan mayoritas, dimana kelas minoritas tersebut merupakan suatu kelas sosial kecil, yang dianggap lemah dan tidak berdaya, sehingga dapat dengan mudah ‘ditekan’ oleh ‘penguasa faktor-faktor produksi’.

Pergerakan Sosial

Pendekatan politik ekonomi mengidentifikasi strukturasi sebagai sebuah proses sosial yang berawal dari pendekatan kelas, pengkategorian, hubungan masyarakat, dan menguji lebih lanjut bagaimana konsep-konsep tersebut berkerja dalam wacana gender dan ras. Berawal dari hal tersebut, masayarakat memulai sebuah perubahan (gebrakan baru) dengan melakukan sebuah pergerakan sosial, dimana pergerakan sosial merupakan sebuah proses penting dalam politik ekonomi komunikasi, karena pergerakan sosial tersebut mempengaruhi perkembangan dalam proses pemaknaan dan isi dari sebuah proses komunikasi. Pergerakan sosial juga merupakan sebuah usaha ‘menentang’ dominasi dari sebuah politik media. Hal tersebut dapat berbentuk berbagai macam, antara lain adanya alternatif media, seperti BBS (Bulletin Board System) dalam dunia internet, adanya LSM, maupun kelompok-kelompok masyarakat yang kritis akan adanya tampilan media dan menginginkan adanya sebuah ‘angin segar’ dalam sebuah tatanan ekonomi politik. Pergerakan sosial tersebut mencoba menelaah lebih lanjut akan adanya praktek-praktek dominasi kekuasaan, seperti komodifikasi dan spasialisasi, yang mana praktek tersebut bermula dari paham Marxisme yang mengarah pada kapitalisme global.

Dalam prosesnya, terdapat berbagai macam bentuk kapitalisme dalam kehidupan masyarakat, salah satu bentuknya adalah proses hegemony, yang dikemukakan oleh Gramsci seorang pemikir dari Italia. Hegemoni tersebut merupakan sebuah proses ‘pemersatuan’ atau ‘homogenitasi’ dalam masyarakat, dimana didalam proses tersebut terdapat campur tangan kelompok yang dominan menggerakkan laju perekonomian. Konsep tersebut dikenalkan Gramsci guna membongkar cara kerja Marxisme, dimana Gramsci sendiri merupakan salah satu tokoh yang menganut azab Marxian. Hegemony tersebut tidak sama dengan penanaman ideologi, dimana ideologi mengaburkan konsep dan informasi yang ada dalam diri indifidu, sedangkan hegemoni lebih merupakan sebuah proses yang lebih luas dari ideologi yang melibatkan aspek sosial masyarakat menuju sebuah konsep ‘homogenitas’ atau keseragaman.

Dari konsep hegemony tersebut memuat keseluruhan proses strukturasi, mulai dari kelas sosial, gender, ras, maupun pergerakan sosial, dimana kesemuanya itu merujuk pada keseluruhan proses aspek masyarakat.

copyright : hanunk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>